Membimbing Guru Lebih Kreatif Mengajar Sastra

Membimbing Guru Lebih Kreatif Mengajar Sastra

289
0
SHARE
Jose Rizal Manua Membimbing Cara Menulis Puisi

JAKARTA – Melanjutkan program yang sudah dimulai sejak awal September 2016, pendampingan guru oleh sastrawan berjalan kembali. Hari ini (3 November) giliran para guru SD dan SMP yang mengajar bahasa Indonesia dari Jakarta Selatan. Pekan depan wilayah Jakarta Pusat mendapat giliran terakhir, putaran kelima.

Badan Bahasa sebagai penyelenggara, di bawah Gerakan Literasi yang pernah dicanangkan mantan Mendikbud Anies Baswedan, mengharapkan pengajaran sastra di sekolah berlangsung menyenangkan. Apabila guru-gurunya kurang menguasai materi bahasa dan sastra Indonesia, sulit dijamin para murid akan mencintai sastra Indonesia. Selain mata pelajaran eksakta yang umumnya diperlukan dalam dunia pekerjaan, bahasa Indonesia justru harus dikuasai sebagai syarat utama komunikasi. “Mari belajar bahasa Indonesia melalui sastra,” kata Gufran Ali Ibrahim, Ketua Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada saat membuka acara pendampingan.

Mengapa demikian? Dengan membaca sastra, anak-anak akan mengenal dan memperkaya kosa kata. Dengan membaca sastra anak-anak akan beroleh katarsis jiwa, sublimasi jiwa, dan kehalusan budi. Sastra secara tidak langsung mengangkat martabat bangsa.

Guru-guru SD yang tugas mengajar hampir seluruh mata ajar di kelasnya (kecuali agama dan olah raga), dituntun lebih berat ketimbang guru-guru SMP. Guru SD pula yang berhadapan dengan murid-murid usia sangat belia yang dunianya masih separuh bermain. Kesulitan mengajar itu sangat dipahami, oleh karena itu diperlukan kreativitas tersendiri agar dapat menyampaikan mata pelajaran dengan cara yang menyenangkan.

Beberapa guru memberikan cotoh mengajar. Ada yang menggunakan nyanyian untuk memulai menulis puisi. Dengan cara itu, puisi lebih mudah ditulis dan mereka antusias membacanya diiringi senandung. Ada guru yang menjadi pendongeng dan mengajari murid-muridnya 3 hal: (1) mendengarkan atau menyimak, (2) menceritakan kembali (memahami materi cerita), dan (3) menuliskan (menguji keterampilan menyampaikan gagasan dan imajinasi).

Bahkan ada guru yang mengajari anak-anak kelas IV menjadi jurnalis. Mereka ditugasi mewawancara orang-orang di sekitar sekolah, mulai dari satpam, orag kantin, penjaga sekolah; dan hasilnya dituliskan. Meskipun masih sederhana dan acak-acakan, ada keberanian yang ditumbuhkan di sana.

Gufran Ali Ibrahim, Ketua Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa membuka pelatihan
Gufran Ali Ibrahim, Ketua Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa membuka pelatihan

Mengajar SD dan SMP dibutuhkan kiat khusus. Mereka mungkin belum dapat diketahui mengenai cita-cita dan kegemaran masing-masing, juga tak dapat dipaksakan untuk menjadi penyair atau novelis. Namun demikian, pembelajaran bahasa dan sastra seperti pintu masuk untuk menjelajah ke dunia-dunia yang aneka ragam seperti: filsafat, sejarah, agama, sains, dan teknologi.

Jose Rizal Manua, satu di antara pendamping, mengajarkan bagaimana cara mengajak murid menulis puisi. Ia minta kepada sejumlah guru untuk menyumbangkan satu kata. Setelah terhimpun sekitar 20 kata, diminta para guru memilih dan menyusun kata-kata itu menjadi puisi. Bisa diambil sebagian atau seluruh kata, disusun seperti “pagar”. Hasilnya? Tidak sangka, para guru menyusun kata itu menjadi puisi yang memiliki makna berbeda-beda. Cara kedua adalah menulis dengan memandang obyek di tengah ruangan. Aneka benda diletakkan dan para guru diminta menulis puisi sesuai dengan pengalaman batin masing-masing. Hasilnya juga mengejutkan, mereka memiliki gaya berbeda dalam memindahkan obyek yang dilihatnya.

Cara-cara sederhana itu akan menggugah para siswa menulis puisi secara menyenangkan. Dengan rasa senang itu, pelajaran menjadi mudah dijalankan. Maka gerakan literasi yang juga menyarankan agar para siswa membaca buku fiksi 15 menit sebelum memulai kelas akan dilaksanakan dengan kegembiraan, bukan sebagai beban.

Selain Jose Rizal Manua, ada Gola Gong dan Jamal D. Rahman yang menjadi narasumber pendampingan guru. Sejumlah pertanyaan terlontar dari para guru, sebagian mengeluhkan kurikulum yang seolah memaksakan materi ajar terlalu berat untuk tingkat SD. Pemahaman itu membutuhkan fasilitas yang harus dicari oleh para guru. Buku-buku bacaan yang sesuai dengan usia misalnya. Pembuatan permainan pasang lepas paragraf atau pelajaran paraphrase yang mengubah puisi menjadi cerpen. (Kef)